Studi AWS bertajuk “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026” menemukan bahwa adopsi kecerdasan buatan (AI) di Indonesia telah mencapai 40%, seiring laporan pelaku usaha mengenai peningkatan produktivitas dan pendapatan. Kini, peluang utamanya adalah memperluas skala nilai manfaat tersebut.
wirepop.id – Saat hibank mulai melayani 64 juta usaha mikro dan kecil di Indonesia, bank digital ini tidak menempatkan AI sekadar sebagai pelengkap. hibank membangun AI langsung ke dalam inti bisnisnya, yakni penilaian kelayakan kredit (underwriting), deteksi kecurangan (fraud), hingga layanan pelanggan. Hasilnya adalah keputusan yang lebih cepat, risiko yang lebih rendah, serta jalan menuju profitabilitas yang tidak dapat dicapai model tradisional pada skala tersebut.
hibank bukanlah pengecualian. Riset terbaru dari studi “Unlocking Indonesia’s AI Potential 2026“, yang diluncurkan hari ini di AWS Summit Jakarta, mengungkapkan bahwa 40% pelaku usaha di Indonesia kini telah mengadopsi AI—dan 75% dari para pengadopsi tersebut melaporkan peningkatan produktivitas yang terukur. Startup AI-native di Indonesia mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 142% dari tahun ke tahun. Pergeseran dari eksperimen menuju eksekusi bukan lagi sekadar tren yang baru muncul, melainkan sesuatu yang sudah terjadi secara nyata. Studi yang dilakukan oleh Strand Partners ini menyurvei 1.000 pemimpin bisnis dan 1.000 anggota masyarakat umum untuk memetakan bagaimana adopsi AI dan cloud berlangsung di seluruh Indonesia.
Temuan ini menandai sebuah titik balik. Organisasi di Indonesia tidak lagi mempertanyakan apakah AI adalah solusi yang tepat. Para organisasi kini mempertanyakan seberapa cepat mereka dapat memperluas skalanya, bagaimana mengelolanya secara bertanggung jawab, serta di mana menemukan talenta untuk mendukungnya secara berkelanjutan. Berikut ini adalah gambaran yang ditunjukkan oleh data—dan apa maknanya bagi pelaku usaha yang tengah memutuskan langkah selanjutnya.
Temuan ini menunjukkan bahwa perekonomian Indonesia tengah memasuki fase berikutnya dalam adopsi AI. Di antara para pengadopsi AI tersebut, 75% melaporkan adanya peningkatan produktivitas, naik dari 68% pada tahun lalu. Sebanyak 72% menyatakan bahwa AI telah mempercepat siklus inovasi mereka, dan 62% melaporkan pertumbuhan pendapatan yang didorong oleh pemanfaatan AI. Adopsi cloud juga semakin kuat, meningkat menjadi 62% dari 54% pada tahun sebelumnya.
Pelaku usaha terdepan tunjukkan arah perkembangan AI selanjutnya
Gelombang AI berikutnya mulai menunjukkan berbagai potensi baru saat organisasi melangkah lebih jauh dari skenario penggunaan yang berdiri sendiri. Pelaku usaha yang telah mengadopsi agentic AI melaporkan hasil produktivitas yang lebih kuat, dengan 84% di antaranya mencatat peningkatan produktivitas. Mereka juga menunjukkan manfaat operasional yang lebih canggih: 47% melaporkan pengambilan keputusan dan eksekusi yang lebih cepat, 44% melaporkan peningkatan efisiensi operasional atau produktivitas, serta 38% melaporkan skalabilitas operasional yang lebih baik.
Kesadaran akan agentic AI masih terus berkembang, dengan 38% pelaku usaha menyatakan bahwa mereka pernah mendengar istilah tersebut. Sinyal yang lebih penting adalah besarnya minat mereka: begitu konsep agentic AI dijelaskan, sebanyak 58% pelaku usaha menyatakan berencana untuk mengadopsinya atau tengah aktif mempertimbangkan hal tersebut.
hibank kini menggunakan Kiro, layanan koding AI agentik, untuk memodernisasi sistem buy now pay later (BNPL) miliknya. Dengan Kiro menangani spesifikasi, desain, dan implementasi melalui bahasa alami (natural language), tim hibank berhasil mempercepat proses akhir hari (end-of-day processing) sebesar 30% sekaligus mengurangi penggunaan infrastruktur sebesar 25%.
Dari tambahan menjadi fondasi utama: cara berbeda startup AI-native dalam membangun bisnis
Startup menunjukkan akselerasi yang jauh lebih pesat dalam pergeseran ini. Di saat banyak perusahaan mapan baru mencari cara untuk mengintegrasikan AI ke dalam alur kerja yang sudah ada, startup AI-native di Indonesia telah membangun fondasi bisnis mereka berbasis AI sejak awal. Mereka merancang produk, operasional, dan model bisnis berdasarkan kapabilitas teknologi tersebut.
Model ini mulai membuahkan hasil. Para pelaku startup AI-native melaporkan pertumbuhan pendapatan tahunan rata-rata 142%, jauh melampaui rata-rata startup nasional yang sebesar 60%. Selain itu, mereka memiliki peluang 4,8 kali lebih besar untuk membukukan pendapatan tahunan di atas US$1 juta. Hampir seluruhnya (97%) memperkirakan bahwa AI akan terus memacu pertumbuhan pendapatan mereka pada tahun mendatang.
Rey, sebuah perusahaan healthtech, memberikan gambaran nyata dari implementasi ini. Perusahaan tersebut membangun Olvo AI menggunakan Amazon Bedrock untuk mengotomatisasi proses klaim dan menghadirkan layanan kesehatan terintegrasi dalam skala besar. Keputusan klaim dan penggantian dana yang sebelumnya memakan waktu satu hingga dua minggu, kini dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari sehari. Saat ini, platform tersebut mampu memproses lebih dari 7.000 klaim per hari untuk melayani lebih dari 500.000 anggota berasuransi.
Satu perjalanan, beda titik awal
Kisah adopsi teknologi di Indonesia merefleksikan beragam perjalanan yang berbeda, bukan satu jalur yang seragam. Mayoritas pengadopsi AI masih berada dalam fase eksplorasi atau eksperimen sebesar 56%, sementara 12% menyatakan bahwa AI telah terintegrasi sepenuhnya ke dalam operasional dan menjadi pusat strategi bisnis mereka.
Di sisi lain, sektor UKM menunjukkan perkembangan yang positif: sebanyak 38% UKM telah mengadopsi AI, dengan 57% di antaranya tengah mengeksplorasi atau bereksperimen, dan 10% telah mengintegrasikannya secara penuh. Hal ini menunjukkan bahwa sektor UKM mampu mengimbangi langkah perkembangan lanskap bisnis yang lebih luas.
Di seluruh kalangan pelaku bisnis, ambisi tersebut terlihat sangat jelas. Sebanyak 78% pelaku usaha memperkirakan penggunaan AI di perusahaan mereka akan meningkat dalam 12 bulan ke depan. Sementara, 72% menyatakan memiliki ambisi kuat untuk memperluas skala pemanfaatan AI ke lebih banyak lini bisnis mereka.
Berbagai contoh dari sektor-sektor industri menunjukkan bagaimana ambisi tersebut mulai terwujud.
Jasa keuangan: sebanyak 58% pelaku usaha telah mengadopsi AI, dibandingkan rata-rata nasional yang sebesar 40%, dan 78% di antaranya melaporkan peningkatan produktivitas.
Kesehatan: adopsi AI telah mencapai 42%, dengan 72% melaporkan peningkatan produktivitas, dan 80% menyatakan bahwa AI akan mentransformasi industri mereka dalam lima tahun ke depan.
Dan di sektor publik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah membangun chatbot omnichannel berbasis AI di atas Amazon Bedrock pada AWS Asia Pacific (Jakarta) Region. Platform ini menyatukan lima titik kontak ke dalam satu platform untuk membantu tim mengakses informasi pengadaan barang dan jasa secara lebih cepat dan konsisten.
Tahap selanjutnya: membangun keyakinan untuk memperluas skala
Seiring dengan semakin banyaknya organisasi yang beralih dari tahap eksperimen ke tahap produksi, fondasi-fondasi yang dibutuhkan untuk memperluas skala AI menjadi kian jelas. Saat ini, sebanyak 24% perusahaan yang mengadopsi AI melaporkan telah memiliki strategi AI formal, 21% telah menerapkan tata kelola data, dan 17% telah memiliki kerangka kerja AI yang bertanggung jawab. Kapabilitas-kapabilitas inilah yang membantu pelaku usaha bertransisi dari sekadar aktivitas uji coba menuju dampak nyata bagi bisnis.
Pengukuran dampak merupakan salah satu bagian penting dari pergeseran tersebut. Sebagian besar pengadopsi AI telah melaporkan hasil bisnis yang positif. Langkah berikutnya adalah meresmikan metode pengukuran nilai manfaat tersebut: sebanyak 47% pelaku usaha mengidentifikasi pengukuran ROI (Return on Investment) yang andal sebagai salah satu prioritas utama, sementara 19% memiliki kerangka kerja jelas untuk menentukan keberhasilan penerapan AI mereka.
Keterampilan juga menjadi area yang tengah mengalami penguatan. Sebanyak 56% organisasi mengidentifikasi kurangnya keterampilan digital dan AI sebagai hambatan dalam mengadopsi atau memperluas pemanfaatan AI. Para pemimpin bisnis mengidentifikasi kemampuan menginterpretasikan, memvalidasi, serta mengkritisi output yang dihasilkan AI sebagai salah satu keterampilan terpenting yang perlu dipelajari staf mereka dalam lima tahun ke depan.
Hal ini menunjukkan pergeseran yang lebih luas, bahwa seiring AI semakin menyatu dalam pengambilan keputusan sehari-hari, organisasi akan membutuhkan talenta yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi tersebut dengan penuh keyakinan, tetapi juga mampu mengkritisi hasilnya dan menerapkan penilaian yang bertanggung jawab secara berdampingan.
Tahap selanjutnya membutuhkan kombinasi infrastruktur lokal, layanan AI canggih, kapabilitas penerapan AI secara bertanggung jawab, serta program pengembangan keterampilan. AWS Asia Pacific (Jakarta) Region memberikan para pelaku usaha, instansi pemerintah, startup, dan organisasi di Indonesia akses langsung ke infrastruktur cloud lokal, yang didukung oleh rencana investasi sekitar US$5 miliar selama 15 tahun yang telah diumumkan sebelumnya. Berbagai organisasi di Indonesia telah mulai merasakan manfaat dari berinovasi menggunakan teknologi AWS seperti Amazon Bedrock dan Kiro.
AWS juga telah melatih lebih dari 1,3 juta orang Indonesia dalam bidang cloud dan keterampilan AI. Bahkan pada tahun 2026, AWS mengumumkanmengumumkan kehadiran “IndonesiapandAI”, sebuah permainan kata dari istilah Indonesia “pandai” yang berarti cerdas atau pintar, serta program “MAIN”. Keduanya merupakan inisiatif pelatihan cloud dan AI gratis yang dirancang untuk membuka akses luas terhadap keterampilan tersebut dalam bahasa Indonesia untuk setiap tingkat pembelajaran.
Langkah selanjutnya
Riset ini mengidentifikasi empat prioritas utama untuk fase berikutnya di Indonesia, yakni mempercepat kesiapan menyambut agentic AI dan generative AI, khususnya bagi sektor UKM, membangun keyakinan melalui pengukuran ROI yang lebih kuat, berinvestasi pada kapabilitas sumber daya manusia (SDM) yang berjalan selaras dengan praktik AI yang bertanggung jawab, serta melibatkan para pemimpin sektor industri untuk membagikan pembelajaran praktis.
“Kisah AI di Indonesia telah bergeser dari eksperimen menuju eksekusi. Hasilnya berbicara dengan sendirinya,” ujar Anthony Amni, Country Manager, Indonesia. “Yang terpenting sekarang adalah mengubah kemenangan-kemenangan awal menjadi transformasi di seluruh perusahaan. Infrastruktur, layanan, dan program pengembangan talenta sudah tersedia. Perusahaan-perusahaan yang bergerak cepat dan tegas akan menentukan arah dekade berikutnya bagi ekonomi digital Indonesia.”
Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai riset ini, termasuk langkah-langkah praktis yang dapat diambil oleh pelaku usaha dalam mengubah adopsi AI menjadi dampak bisnis jangka panjang, silakan baca laporan lengkapnya di sinisini.










